Main Menu
WITA
Stock Trader Scroller
Powered by Stock Trader
GMT
User Menu
Login Form
Google Currency Converter
Convert 

into

  
Ultimate Content Display
Home

PostHeaderIcon Welcome to the Frontpage

PostHeaderIcon Buku Putih Sri Mulyani

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengeluarkan buku putih berjudul Upaya Pemerintah dalam Pencegahan dan Penanganan Krisis melalui tim asistensi sosialisasi kebijakan pencegahan dan penanganan krisis sistem keuangan Departemen Keuangan RI.

Buku tersebut dikeluarkan sehari sebelum mantan ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tersebut menghadiri rapat pansus hak angket kasus Bank Century pada Rabu 13 Januari besok.

Sebagai informasi, buku setebal 74 halaman tersebut sebenarnya tidak ada hal yang baru. Isi buku lebih banyak berisi penjelasan dari Sri selaku ketua KSSK kepada media massa seputar penyelamatan Bank Century yang kini terus menggelinding bak bola liar.

Kasus tersebut memang tidak hanya melibatkan nama Sri Mulyani saja, tetapi juga menyeret nama mantan gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono, mantan sekretaris KSSK Raden Pardede, serta ketua UKP3R Marsillam simanjuntak, dan masih banyak lagi.

Namun, ada hal yang menarik dari buku edisi Januari 2010 tersebut. Yakni pernyataan Sri Mulyani kepada media massa yang menuding pengamat ekonomi serta mantan anggota DPR yang mengecam penyelamatan Bank Century, justru orang-orang tersebut mendukung penyelamatan Bank Century di saat dampak krisis ekonomi global pada November 2008 lalu.

Secara gamblang, buku putih di halaman 23-25 ini membeberkan kliping-kliping berita baik dari koran nasional maupun media online yang semua narasumbernya sangat kritis seperti Drajad Wibowo maupun Bambang Soesatyo. Sebenarnya, dalam pernyataan-pernyataannya mendukung penuh upaya pemerintah dan BI menyelamatkan perbankan dari gejolak ekonomi global.

Kliping berita okezone.com tertanggal 9 oktober 2008, anggota DPR Komisi XI periode 2004-2009 Drajad wibowo menyatakan, “Pemerintah harus menentukan manuver-manuver politiknya dan segera melakukan tindakan untuk meredam krisis yang sedang melanda Indonesia.”

Sedangkan kliping berita dari salah satu media tertanggal 28 april 2008 anggota DPR periode 2004-2009 Bambang Soesatyo mengatakan, “Saat krisis terjadi, BI dan pemerintah tidak akan memiliki cukup waktu untuk berdebat. Kebijakan mendasar harus diputuskan tidak dalam hitungan hari. Namun hitungan jam, bahkan menit!”

Buku putih di halaman 23 hingga 25 ini juga mengkliping penyataan-pernyataan dari tokoh-tokoh yang saat ini sangat keras mengecam penyelamatan Bank Century. Justru nama-nama seperti Maruarar Sirait, Rizal Ramli, Ramson Siagian, Ichsanuddin Noorsy, maupun Hendri Saparini pada medio November-Desember 2008 mendukung penuh upaya penyelamatan bank milik Robert Tantular tersebut di saat dampak krisis global menghantam Indonesia.

Selain itu, dalam buku putih tersebut pada bab XI: mengenai tanya jawab dari halaman 57-72 secara gamblang membeberkan fakta-fakta yang sebenarnya sudah disampaikan Sri Mulyani maupun mantan sekretaris KSSK Raden Pardede kepada media massa.

Di antaranya, Buku Putih ‘membantah’ adanya instruksi Presiden SBY kepada Sri Mulyani melalui telepon agar menyetujui penyelamatan Bank Century pada rapat pengambilan keputusan KSSK. Selain itu, Sri Mulyani melalui buku putih dengan jelas membantah tidak benar KSSK yang menentukan besaran dana talangan Bank Century sebesar Rp6,76 triliun.

Menurut Sri Mulyani besaran penyertaan modal sementara (PMS) merupakan hasil pembahasan BI dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan mengacu pada UU LPS. KSSK hanya berperan dalam menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik, bukan besaran dana PMS.

Pada kata pengantar buku putih tertulis “tak ada gading yang tak retak”. Kesempatan hanya milik yang esa yaitu Allah Subhanallahu Wa Ta’ala. Menteri Keuangan, Gubernur BI sebagai bagian dari KSSK adalah manusia biasa yang jauh dari kesempurnaan.

Segala upaya terus dilakukan Sri Mulyani untuk meyakinkan publik, mengingat polemik Bank Century semakin tidak terarah. Bila dibiarkan, kisruh Bank Century akan jadi tekanan berat bagi Bank Century (saat ini menjadi Bank Mutiara) yang sedang bekerja keras untuk memperbaiki diri.

Pemberitaan media massa mengenai polemik Bank Century kian beragam, ada yang terang-terangan mendukung, ada yang terang-terangan terus mengkritisi, ada pula yang bersifat netral. Yang jelas, pansus hak angket Bank Century terus meminta keterangan pihak-pihak yang terlibat dalam kisruh Bank Century. Selamat berpansus ria Bu Sri Mulyani.

http://news.id.msn.com/okezone/business/article.aspx?cp-documentid=3785182

 

Buku putih dapat didownload disini

Last Updated (Wednesday, 13 January 2010 08:08)

 

PostHeaderIcon Toyota Gantikan GM Memimpin Dunia

www.bisnisinternasional.co.id

 

GM yang selama 77 tahun bertengger sebagai produsen mobil terbesar di dunia, beberapa bulan lalu kehilangan mahkotanya dikalahkan Toyota yang pada 2008 menjual 8,97 juta mobil sementara GM hanya menjual 8,35 juta unit mobil.  GM kini dijuluki Government Motors karena telah dibantu pemerintah.

Pada 2 Juni 2009 GM mendaftarkan kepailitan melalui sarana chapter 11. Ini bukan awal kebangkrutan industri otomotif AS, karena Chrysler sudah lebih dahulu pailit. Hanya saja pemerintahan Obama tampaknya lebih memihak GM ketimbang Chrysler. Barangkali GM di nilai sebagai flag carrier AS di sektor otomotif global.
Apa pun masalahnya, dengan langkah memailitkan GM, pemerintahan Obama berpeluang memiliki 60% saham di perusahaan otomotif terbesar di AS ini. Presiden Obama pun menyatakan dukungan terhadap GM setelah perusahaan ini mengajukan kebangkrutan sesuai undang-undang kepailitan di AS. Artinya, GM selanjutnya bebas dari tuntutan para kreditur sehingga memiliki kesempatan untuk melakukan restrukturisasi. Apalagi Obama juga berjanji akan menggelontorkan miliaran dolar agar GM bisa diselamatkan. Diprediksi, pemerintah pusat akan menambah bantuan US$30 miliar untuk GM yang sebelumnya telah menerima pinjaman US$20 miliar.

Kinerja merosot
Menurut pengamatan para analis ekonomi, General Motors tertekan akibat pertumbuhan ekonomi AS yang terus melemah. GM juga terlilit utang dan secara internal telah terjadi masalah manajemen. Pengelolaan perusahaan ini ditengarai tidak sehat sejak beberapa tahun terakhir. Contohnya, divisi Pontiac yang sudah merugi sejak lama terus dipertahankan dan baru ditutup beberapa bulan lalu.
Kebangkrutan GM merupakan yang terbesar dalam sejarah industri otomotif AS dan keempat di seluruh sektor industri. Memang, tak ada pilihan lain  bagi GM kecuali memailitkan diri. Perusahaan ini memiliki utang sebanyak US$172,81 miliar dan asset tersisa hanya US$82,28 miliar.
Langkah pailit yang dilakukan GM serupa dengan langkah Chrysler LLC yang mengajukan proteksi kebangkrutan memanfaatkan chapter 11 pada April 2009. Chrysler berharap dapat bangkit kembali dari kebangkrutan lewat bantuan pemerintah. Namun, sampai saat ini belum ada kepastian untuk hal ini. Posisi Chrysler di mata pemerintah pusat AS memang berbeda dibandingkan dengan posisi GM.
Dalam konteks GM, pemerintah AS berharap proses pengadilan atas kebangkrutan perusahaan otomotif ini dapat berlangsung selama 60-90 hari. “Jika proses pengadilan berjalan mulus, GM akan bangkit kembali menjadi perusahaan yang lebih kuat setelah restrukturisasi dengan jumlah tenaga kerja lebih sedikit, jumlah pabrik yang lebih sedikit dan jaringan pemasaran lebih ramping,” demikian tutur salah seorang pengamat otomotif global. “Dengan beban finansial jauh lebih kecil, GM berpeluang dapat melakukan ekspansi pasar dan memulihkan kepercayaan konsumen.”
Tenaga kerja dipangkas dari 61.764 karyawan saar ini menjadi hanya 21.000 karyawan. Jumlah diler akan dipangkas menjadi 2.600 buah dan GM juga akan menutup 11 pabrik serta menonaktifkan tiga pabrik lainnya dalam waktu dekat. Hanya dengan langkah berani seperti ini yang disepakati pemerintah pusat AS, GM diharapkan dapat meneruskan bisnisnya, sekaligus akan menyelamatkan harga saham perusahaan ini yang anjlok ke titik terendah, yaitu hanya 75 sen dolar pada 29 Mei 2009. “Ini merupakan awal yang baru, kelahiran kembali, ini adalah General Motors yang baru,” ujar Carl Levin, Senator Demokrat.
Setelah restrukturisasi, menurut sumber orang dalam, GM akan tampil  dengan empat merek andalan, yaitu Chevrolet, Cadillac, Buick dan GMC. Ini merupakan merek-merek GM yang masih laku di pasar, sementara Pontiac sudah lebih dulu dihapus sekitar awal 2009 karena penjualannya terus merosot.”

Era telah berakhir
GM merupakan perusahaan yang sangat menjamin kesejahteraan para pekerjanya. Mereka dapat membeli rumah layak, berlibur, memiliki fasilitas asuransi kesehatan dan pensiun yang layak, serta mengendarai mobil yang dibeli dengan potongan lumayan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini mulai kewalahan menanggung beban pensiun karyawan dan benefits yang harus dibayarkan kepada karyawan aktif.
Pada awal 1980-an GM pernah memudar yang diatasi dengan menutup beberapa pabrik di Meksiko dan Asia. Kota-kota seperti Flint, Michigan (AS) yang awalnya sibuk, menjadi sepi. Banyak rumah yang ditinggal penghuninya dan toko-toko kosong melompong.
Jumlah pekerja yang pada 1981 mencapai 440.000 karyawan hanya di AS saja, diciutkan menjadi 133.000 pada 2000. Enam tahun kemudian, turun lagi menjadi 62.000 karyawan. Dalam skema restrukturisasi sekarang, GM harus mengurangi karyawan sampai menjadi 38.000 pada 2011. Ini termasuk bagian dari program strategis penyelamatan perusahaan yang disepakati Gedung Putih belum lama ini.
Sampai 2005, tenaga kerja di lingkungan GM masih bisa menikmati gaji dan berbagai fasilitas bagus. Namun, pada restrukturisasi 2005, serikat pekerja menyetujui pengurangan tunjangan dan gaji karyawan baru. Lalu, serikat pekerja juga menjamin tidak akan ada mogok kerja sampai 2015. Langkah lunak serikat pekerja ini diambil setelah melihat kondisi perusahaan yang terus memburuk.
Pihak manajemen GM sendiri pun telah berusaha meningkatkan produksi dan memangkas biaya. Namun, restrukturisasi dengan biaya miliaran dolar dan beban utang tidak bisa membuat perusahaan ini bertahan. GM merugi US$88 miliar antara 2005 sampai kuartal pertama 2009. Kerugian pada 2008 saja mencapai US$31 miliar. “Sebuah era telah berakhir,” ucap Harley Shaiken, akhli tenaga kerja dari University of California-Berkeley.
Gong pailit pun berdentang. Pada Maret 2009, dalam laporan tahunannya, auditor GM menyatakan keraguannya bahwa GM akan mampu bertahan. CEO GM, Rick Wagoner pun mengundurkan diri atas permintaan Gedung Putih. Pada Mei 2009, GM mengumumkan kerugian triwulan pertama 2009 sebesar US$5,9 miliar akibat pemangkasan produksi 40%.
Mati karena proteksi
Memang, resesi ekonomi berkepanjangan, belitan utang dan salah urus (mismanagement) termasuk penyebab hancurnya GM. Meski demikian, banyak pengamat yang menilai, GM hancur terutama akibat proteksi. Industri otomotif AS yang kebanyakan berbasis di Detroit sejak awal 1980-an diproteksi secara terselubung oleh pemerintah pusat.
Di awal 1980-an, misalnya, pemerintah AS meminta produsen mobil Jepang menurunkan penjualannya di negeri adi daya ini. Toyota, Honda dan Nissan yang memiliki pangsa pasar lumayan di AS pun dengan simpatik memenuhi permintaan tersebut. Namun, tiga besar ini mengatur strategi untuk menerobos pasar AS.
Toyota mendahului dua rekan senegaranya, mulai membangun pabrik pertamanya di George Town pada 1982. Dengan memenuhi standar konten lokal 60%, mobil Toyota produksi George Town dapat diberi label made in USA dan menikmati semua kemudahan dan tingkat pajak seperti mobil lain buatan GM, Ford, Chrysler dan berbagai merek AS lain. Bahkan ketiga merek Jepang ini pun mendirikan pabrik khusus yang menghasilkan mobil-mobil premium seperti Lexus (Toyota), Acura (Honda) dan Infinity (Nissan) dengan dimensi besar untuk memenuhi selera konsumen AS yang menyukai sedan berukuran besar. Tiga besar GM, Ford dan Chrysler pun makin kedodoran menghadapi serangan ini.
“Lebih mudah menjual Toyota ketimbang merek mana pun,” ucap Roberto Castillo, salesman Longo Toyota, El Monte, Los Angeles, enam tahun lalu. Pada 2002 bertambah kaya dengan komisi US$80.000! Entah berapa kekayaan Castillo sekarang, karena penjualan Toyota di AS terus meningkat. “Semua orang telah mengetahui kehebatan Toyota sehingga Anda tidak perlu lagi repot menjelaskannya.”
Keberhasilan Toyota pada 2000-an merupakan buah dari strategi panjang. Pada 1993, misalnya, Toyota mematok sederet target: Tumbuh mantap di Jepang, peningkatan penjualan di AS, mencetak uang di Eropa dan mendominasi pasar Asia Tenggara. Pada tahun sebelumnya (1992), Toyota memperoleh revenue sekitar US$110 miliar dan laba operasional sebesar US$4,2 miliar.
Toyota pun berjuang keras untuk merealisasikan target yang dipatok pada 1993. Itu sebabnya, meski ada pro-kontra atas ketergantungan Toyota pada pasar AS di markas besar Toyota City, 100 km sebelah timur Nagoya, arah Toyota ke depan sudah jelas. “Kami harus melakukan Amerikanisasi!” ucap CEO Toyota saat itu, Fujio Cho.
Kenyataannya, kinerja Toyota di AS terus meningkat. Pada 2001, Toyota menjual 1,74 juta unit mobil di AS, sementara di Jepang hanya 1,71 juta unit. Meski Toyota tak mengungkapkan berapa laba yang diperoleh di luar Jepang,  para analis percaya 60% laba operasional Toyota diperoleh di AS pada 2003 dan rasio laba ini terus meningkat.
Dari sisi tenaga kerja, jumlah pekerja Toyota di AS pun terus meningkat. Sampai 2003, pabrik-pabrik dan diler Toyota di AS mempekerjakan tidak kurang dari 123.000 orang AS. Jauh lebih banyak dibandingkan gabungan pekerja Coca-Cola, Microsoft dan Oracle. Lebih dari itu, untuk menunjukkan kemandirian dalam operasional di AS, sejak awal 2000-an tidak ada lagi campur tangan Toyota Jepang.
Dominasi Toyota makin meningkat berkat kebijakan Amerikanisasi model-model yang dilempar ke pasar AS. Contohnya, Camry, pikap Tundra dan SUV Sequoia khusus dirancang dengan memasukkan selera pasar Amerika yang diinput tim disain Amerika. []

Last Updated (Tuesday, 27 October 2009 15:51)

 

PostHeaderIcon KURS TRANSAKSI BANK INDONESIA

KURS UANG KERTAS ASING
Update Terakhir 18 November 2009
Kode Singkatan

 

Mata Uang Nilai Kurs Jual Kurs Beli Graph
AUD 1.00 9,212.39 8,280.62 Grafik Time Series
BND 1.00 7,166.58 6,438.00 Grafik Time Series
CAD 1.00 9,440.69 8,484.65 Grafik Time Series
CHF 1.00 9,772.55 8,784.45 Grafik Time Series
DKK 1.00 1,985.87 1,784.36 Grafik Time Series
EUR 1.00 14,772.37 13,282.19 Grafik Time Series
GBP 1.00 16,668.05 14,985.97 Grafik Time Series
HKD 1.00 1,280.69 1,151.55 Grafik Time Series
JPY 100.00 11,119.20 9,995.52 Grafik Time Series
NOK 1.00 1,767.81 1,588.25 Grafik Time Series
NZD 1.00 7,388.17 6,640.20 Grafik Time Series
PGK 1.00 3,908.47 3,302.25 Grafik Time Series
SEK 1.00 1,445.21 1,297.71 Grafik Time Series
SGD 1.00 7,166.58 6,438.00 Grafik Time Series
THB 1.00 299.13 268.74 Grafik Time Series
USD 1.00 9,925.00 8,925.00 Grafik Time Series

Last Updated (Wednesday, 18 November 2009 13:36)

 

PostHeaderIcon HSBC Pindahkan CEO ke Hongkong

LONDON, KOMPAS.com — HSBC akan memindahkan Kepala Eksekutifnya (CEO) ke Hongkong dari London sebagai perubahan pusat gravitasi ekonomi dari Barat ke Timur. Demikian pernyataan perbankan besar itu.

HSBC, yang didirikan di Hongkong dan Shanghai pada 1865, tetap akan berkantor pusat di London dan menggunakan aturan Inggris, meski CEO Michael Geoghegan akan berelokasi, pada Februari, untuk lebih mendekat ke kawasan paling penting dan besar bagi operasi grup usahanya.

"Kehadiran manajemen tambahan di Hongkong dan fokus kepada pasar yang tumbuh lebih cepat adalah hal tepat bagi HSBC dan konsisten terhadap strategi yang ditetapkan tahun 2006."

HSBC menambahkan, Geoghegan juga akan menjadi Ketua Grup Bisnis Asia. "Operasi dari Hongkong, pusat bisnis HSBC Asia Pasifik. Geoghegan akan dipindah ke kawasan yang paling penting dan strategis untuk grup usahanya dengan fokus pada realisasi dari potensi pertumbuhan".

"HSBC Holding Plc, perusahaan induk grup, masih tetap berdomisili di Inggris dan tidak ada rencana pindah," tambahnya.

"Kantor grup akan tetap menjadi bagian Inggris dengan alasan perpajakan."

 

PostHeaderIcon BI: Ekonomi Global Menunjukkan Indikasi Menguat Diberbagai Negara

Selama 2009, inflasi IHK diprakirakan akan mencapai kisaran sasaran 4,5±1%. Pada 2010, inflasi IHK diprakirakan kembali ke pola normalnya pada kisaran 5±1% terkait dengan mulai meningkatnya kegiatan ekonomi dalam negeri, meningkatnya imported inflation sehubungan dengan kenaikan harga komoditas, serta ekspektasi inflasi.

Infobanknews

Jakarta--Perkembangan perekonomian global yang terus menunjukkan pemulihan telah berdampak pada membaiknya ekonomi domestik. Ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh lebih baik dari perkiraan semula, baik pada 2009 maupun 2010.

 

Pada 2009, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 4,0% sampai 4,5% atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5% sampai 4,0%. Sementara itu, pada 2010, pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai 5,0% sampai 5,5%.

 

Proses pemulihan yang terjadi pada perekonomian global terus menunjukkan indikasi yang semakin menguat dan merata di berbagai negara. Perbaikan yang paling tampak adalah di negara-negara emerging market Asia, terutama China.

 

Sementara di negara maju, kontraksi ekonomi mulai melambat. Dari berbagai indikator makro ekonomi global, terlihat optimisme pemulihan ekonomi global semakin menguat.

 

Perkembangan penjualan eceran, utilisasi kapasitas, dan indeks produksi, mulai meningkat baik di negara maju maupun negara emerging markets. Meski menunjukkan perbaikan, beberapa faktor risiko masih membayangi pemulihan ekonomi.

 

Risiko tingkat pengangguran yang masih tinggi di negara-negara maju menjadi kendala bagi perbaikan kinerja perekonomian global lebih lanjut.

 

Pemulihan yang terjadi pada perekonomian dunia juga terefleksi pada perkembangan yang membaik di pasar keuangan global. Sepanjang triwulan III-2009, tingkat risiko di negara maju dan berkembang mulai membaik.

 

Hal itu tercermin pada perkembangan indikator risiko atau Currency Default Swap (CDS) yang terus menurun. Pasar saham global pada triwulan III-2009  masih berada dalam tren yang meningkat meski sempat mengalami koreksi harga.

 

Di sektor riil, optimisme terhadap pemulihan ekonomi dan tren pelemahan dolar AS mendorong kenaikan harga komoditas internasional. Namun, kenaikan harga tersebut belum memberikan tekanan yang signifikan terhadap perkembangan harga secara keseluruhan.

 

Inflasi negara maju dan emerging markets masih relatif rendah, bahkan beberapa negara masih mengalami deflasi sejalan dengan kinerja konsumsi yang masih sepenuhnya belum pulih.

Di sisi domestik, perekonomian Indonesia menunjukkan perkembangan yang lebih baik seiring dengan terus membaiknya perekonomian global. Pertumbuhan PDB pada triwulan III-2009 diperkirakan mencapai 4,2%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 3,9%.

 

Dari sisi permintaan, kinerja konsumsi meningkat ditopang oleh pendapatan ekspor yang meningkat, keyakinan konsumen yang lebih kuat, serta faktor musiman menjelang hari raya Idhul Fitri.

 

Kinerja investasi diperkirakan sedikit membaik, meski masih tumbuh rendah. Dari sisi eksternal, pertumbuhan ekspor diperkirakan lebih tinggi sejalan dengan ekonomi negara mitra dagang yang semakin membaik, serta harga komoditas global yang meningkat.

 

Sementara, pertumbuhan impor diperkirakan masih minimal. Di sisi penawaran, sektor industri pengolahan dan perdagangan, hotel dan restoran, tumbuh membaik pada triwulan III-2009 seiring dengan perayaan Idhul Fitri.

 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik tersebut juga terkonfirmasi oleh hasil asesmen perekonomian daerah yang dilakukan Bank Indonesia.

 

Secara umum, perekonomian daerah masih  menunjukkan kuatnya konsumsi dan ekspor sejalan meningkatnya permintaan produk primer dari China, India dan Korea Selatan, serta mulai meningkatnya kegiatan investasi di seluruh wilayah.

 

Peningkatan ekspor dari wilayah Sumatera dan Kali-Sulampua (Kalimantan-Sulawesi-Maluku-Papua) terutama berasal dari komoditas karet, nikel, batubara dan CPO. Sumber pertumbuhan dari wilayah Jakarta berupa komoditas hasil industri pengolahan.

 

Dari sisi penawaran, pertumbuhan ekonomi wilayah Jakarta terutama ditunjang oleh membaiknya kinerja sektor industri, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor keuangan.

 

Di wilayah Jabalnustra (Jawa-Bali-Nusa Tenggara) pertumbuhan ekonomi didukung oleh sektor pertanian tanaman bahan makanan dan sektor perdagangan, serta wilayah Sumatra dan Kali-Sulampua dipicu oleh sektor pertambangan dan subsektor perkebunan.

 

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi daerah juga didukung oleh realisasi belanja modal pemerintah daerah (APBD) yang umumnya mulai meningkat di triwulan III-2009. Sementara itu, terjadinya gempa di wilayah Sumatera Barat diperkirakan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi di wilayah Sumatera Barat.

 

Sektor unggulan yang selama ini membentuk ekonomi di Sumatera Barat, seperti sektor pertanian, perdagangan, hotel, dan restoran, serta pengangkutan dan komunikasi, diperkirakan terpukul akibat gempa.

 

Namun, dilihat secara nasional, pangsa perekonomian Sumatera Barat terhadap pertumbuhan nasional relatif masih kecil, yaitu sebesar 1,7% dari pertumbuhan ekonomi nasional.

 

Di sisi harga, tren penurunan inflasi selama triwulan III-2009 terus menurun mencapai 2,83% (yoy). Rendahnya tekanan inflasi selama triwulan III-2009 terkait dengan ekspektasi inflasi yang membaik, nilai tukar rupiah yang menguat, dan perkembangan harga komoditas global yang masih rendah.

 

Sementara, tekanan dari sisi permintaan masih minimal meski terindikasi sudah mulai meningkat. Dari faktor non-fundmental, selama triwulan III-2009, kebijakan Pemerintah di bidang harga masih minimal serta pasokan bahan pangan yang melimpah turut mengurangi tekanan terhadap harga.

 

Kenaikan harga ruas tol pada 28 September 2009 diperkirakan memberi dampak minimal terhadap inflasi, sebesar 0,05% pada pembentukan inflasi pada 2009.

 

Membaiknya perekonomian global, terutama negara mitra dagang, berpotensi memberi dampak positif pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia triwulan III-2009.

 

Pemulihan ekonomi global tersebut, terutama ekonomi negara mitra dagang, serta harga komoditas global yang cenderung meningkat, berpotensi mendorong kinerja ekspor lebih tinggi. Sementara, impor diperkirakan masih rendah terkait dengan kebutuhan investasi yang masih lemah.

 

Neraca transaksi berjalan triwulan III-2009 berpotensi mencatat surplus. Sementara di sisi transaksi modal dan finansial (TMF), meski sempat mengalami penyesuaian portfolio asing pada Agustus 2009, arus masuk dana asing dan investasi dalam bentuk portfolio masih mencatat surplus.

 

Sementara itu, peningkatan sovereign credit rating Indonesia dari Ba3 menjadi Ba2 oleh Moodys diperkirakan berdampak positif terhadap aliran modal masuk dan ongkos dalam pembiayaan.

 

Selain itu, sebagai bagian dari langkah kebijakan global yang terkoordinir, Indonesia seperti negara anggota IMF lainnya mendapatkan alokasi SDR, yaitu sebesar SDR1,74 miliar atau setara dengan USD2,7 miliar.

 

Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa di akhir September 2009 mencapai USD 62,3 miliar, yang mencukupi untuk 6,2 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.

 

Membaiknya Neraca Pembayaran Indonesia dan sentimen positif di pasar keuangan global turut mendorong kestabilan nilai tukar rupiah. Meski sempat mengalami tekanan pada akhir Agustus 2009, nilai tukar bergerak menguat dengan volatilitas yang menurun.

 

Penguatan rupiah ini didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang masih kuat seperti tercermin pada neraca transaksi berjalan yang mencatat surplus, imbal hasil yang menarik, serta persepsi risiko yang membaik sehingga menjadi daya tarik bagi investor asing.

 

Selain itu, sentimen positif ekonomi global turut mendukung derasnya arus masuk modal asing ke Indonesia. Rupiah juga relatif masih kompetitif dibandingkan negara kawasan. Selama triwulan III-2009, rata–rata rupiah menguat 5,55% ke level Rp9.973 per dolar AS dengan volatilitas yang menurun.

 

Di sektor keuangan, berbagai perkembangan di atas telah memberikan dampak positif pada kondisi sektor keuangan domestik.

 

Secara umum, kinerja pasar keuangan meningkat dan transmisi kebijakan moneter terus membaik. Di pasar saham, perkembangan bursa efek selama triwulan III-2009 ditandai oleh peningkatan indeks harga.

 

Fundamental domestik yang membaik serta harga komoditas global yang meningkat merupakan faktor yang mendorong pembelian saham baik oleh investor asing maupun domestik yang signifikan.

 

Di pasar obligasi, yield SUN menurun sejalan dengan perkembangan BI Rate yang lebih rendah dan minat investor asing terhadap SUN yang meningkat. Namun, yield SUN untuk tenor jangka panjang (di atas 15 tahun) masih cenderung tinggi terkait dengan persepsi risiko yang masih tinggi.

 

Di sektor perbankan, kondisi perbankan nasional relatif stabil dan respons perbankan terhadap sinyal kebijakan moneter mulai membaik.

 

Secara mikro, kondisi perbankan nasional tetap stabil, yang diindikasikan oleh masih terjaganya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) per Agustus 2009 yang cukup tinggi mencapai level 17,0%.

 

Sementara itu, rasio gross Non Performing Loan (NPL) tetap terkendali di bawah 5% dengan rasio net di bawah 2%. Likuiditas perbankan cukup likuid tercermin dari simpanan perbankan pada instrumen moneter (SBI dan FASBI) yang meningkat, volume transaksi di pasar uang antar bank yang lebih besar, dan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) overnight yang menurun dan cenderung lebih rendah dari BI rate.

 

Sementara itu, respons suku bunga perbankan terhadap kebijakan moneter masih membaik, terutama pada suku bunga simpanan. Sampai dengan pertengahan triwulan III-2009, rata-rata suku bunga kredit menurun sebesar 18 bps atau lebih besar dari periode yang sama di triwulan sebelumnya.

 

Terkait dengan hal tersebut, penyaluran kredit perbankan dari Januari sampai dengan Agustus 2009 masih mencatat 46,7 triliun sebesar 3,5% (ytd).

 

Ke depan, prospek perekonomian Indonesia pada 2009 dan 2010 berpotensi tumbuh lebih baik dari perkiraan semula. Hal tersebut terutama didukung oleh pertumbuhan konsumsi swasta yang masih kuat, kinerja ekspor yang lebih tinggi dari perkiraan semula, serta stimulus Pemerintah.

 

Kinerja konsumsi swasta yang masih kuat didukung oleh tingkat keyakinan konsumen yang tinggi sejalan dengan inflasi dan suku bunga yang rendah serta dampak dari pendapatan ekspor yang meningkat.

 

Perbaikan kinerja ekspor dipengaruhi oleh proses perbaikan ekonomi global yang semakin kuat, serta peningkatan harga komoditas baik non migas maupun migas. investasi diperkirakan masih tumbuh terbatas terkait dengan tingkat utilisasi kapasitas produksi yang masih rendah.

 

Stimulus fiskal Pemerintah juga mampu menopang kinerja ekonomi domestik tercermin pada pertumbuhan konsumsi dan investasi Pemerintah yang cukup tinggi.

 

Dari sisi penawaran, pertumbuhan berbagai sektor diperkirakan mulai berada pada tahapan yang meningkat. Hal ini sejalan dengan permintaan domestik dan eksternal terhadap sektor-sektor tradable yang meningkat.

 

Dengan perkembangan tersebut, perekonomian Indonesia di tahun 2009 diperkirakan tumbuh 4,0-4,5%, lebih baik dari perkiraan semula 3,5-4,0%. Sementara itu, untuk tahun 2010, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi mencapai kisaran 5,0-5,5%.

 

Beberapa faktor risiko perlu dicermati antara lain bersumber pada masih adanya ketidakpastian proses pemulihan perdagangan dunia mengingat proses pemulihan di negara maju yang didukung stimulus fiskal lebih beriorientasi pada permintaan domestik, masih tingginya angka pengangguran di negara maju, dan masih terdapatnya kecenderungan proteksionisme di beberapa negara pasca krisis global.

 

Di samping itu, risiko meningkatnya harga minyak dunia yang didorong oleh kegiatan spekulasi perlu terus dicermati.

 

Di sisi Neraca Pembayaran, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada 2009 dan 2010 diperkirakan mencatat surplus yang semakin membaik. Kegiatan ekspor diperkirakan membaik didukung oleh proses pemulihan ekonomi dunia serta kenaikan harga komoditas.

 

Di sisi domestik, impor diperkirakan masih tumbuh terbatas mengingat kegiatan investasi yang masih tumbuh rendah. Sementara untuk 2010, neraca transaksi berjalan diperkirakan masih akan mencatat surplus.

 

Kinerja transaksi modal dan finansial ditopang oleh kondisi domestik dan eksternal yang lebih kondusif dibandingkan sebelumnya.

 

Kondisi fundamental domestik yang terjaga, persepsi risiko yang membaik, serta minat investor terhadap aset domestik yang masih kuat diperkirakan mampu mendorong arus masuk modal asing ke Indonesia, baik dalam bentuk investasi portofolio maupun penanaman modal asing.

 

Di sisi prospek inflasi, tren penurunan inflasi pada 2009 diprakirakan masih berlanjut, namun memiliki potensi untuk kembali ke pola normalnya pada 2010.

 

Selama 2009, inflasi IHK diprakirakan akan mencapai kisaran sasaran inflasi  4,5±1%. Pada 2010, inflasi IHK diprakirakan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1% terkait dengan mulai meningkatnya kegiatan ekonomi dalam negeri, meningkatnya imported inflation sehubungan dengan kenaikan harga komoditas, serta ekspektasi inflasi.

 

Dari sisi non-fundamental, kenaikan tekanan inflasi diprakirakan bersumber dari kenaikan beberapa administered prices yang bersifat non-strategis. Sedangkan inflasi volatile food diprakirakan cukup rendah sejalan dengan pasokan dan distribusi bahan pangan dan energi yang cukup terjaga. (*)

Last Updated (Friday, 09 October 2009 12:11)