Main Menu
WITA
Stock Trader Scroller
Powered by Stock Trader
GMT
User Menu
Login Form
Google Currency Converter
Convert 

into

  
Ultimate Content Display
Home

PostHeaderIcon Welcome to the Frontpage

PostHeaderIcon BI: Kuartal III ekonomi tumbuh 3,9%

oleh : Hendri T. Asworo

JAKARTA (bisnis.com): Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2009 akan mencapai 3,9% atau lebih rendah dari kuartal sebelumnya. Namun, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini mencapai di atas 4,0%.

Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono mengatakan kondisi ekonomi saat ini belum sepenuhnya lepas dari resesi ekonomi, tetapi sudah mengarah positif, karena adanya peningkatan permintaan impor dari sejumlah negara besar.

Menurut dia, tahun lalu partumbuhan ekonomi masih tinggi, kalau dihitung year on year pasti lebih rendah ketimbang 4% yang kemarin [kuartal II], jadi nanti [kuartal III] di bawah itu. "Kalau bisa 4%, itu sudah bagus, tapi kayaknya di bawah itu, sekitar 3,9%. Karena ahun lalunya tinggi,” katanya di sela-sela Halal bi Halal di Bank Indonesia, siang ini.

Dia menjelaskan pada kuartal III/2009 adalah puncak penurunan pertumbuhan ekonomi, kemudian pada kuartal IV/2009 akan naik lagi. Namun, dia optimistis secara penuh pada tahun ini pertumbuhan ekonomi mencapai di atas 4%.

“Baru kemudian [tahun depan] mencapai 5%, karena kegiatan ekonomi sejumlah negara mulai naik,” paparnya.

Dalam dua kuartal sebelumnya pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan karena perlambatan ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2009 mencapai 4,0% dan kuartal I/2009 sebesar 4,4%.

Pada kuartal II/2009 sektor menopang pertumbuhan ekonomi ada tiga, yakni sektor listrik, gas dan air, sektor pengangkutan dan komunikasi, dan sektor jasa lainnya. Tiap sektor itu mengalami pertumbuhan menjadi 17,5% pada sektor pengangkutan dan komunikasi. Sektor listrik, gas, dan air menjadi 15,4%, dan sektor jasa lainnya sebesar 7,4%. (11)

www.bisnis.com

 

PostHeaderIcon BI: Tak Ada Data yang Disembunyikan

Senin, 28 September 2009 | 12:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak akan menyembunyikan data terkait penyelidikan kasus dana Bank Century oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Hal ini dilakukan untuk membantu kelancaran pemeriksaan. "Tidak ada data yang disembunyikan, tapi kalau rahasia bank bukan kita," ujar Deputi Gubernur BI Budi Rochadi seusai halalbihalal di gedung BI, Senin (28/9).

Budi menjelaskan, hingga kini pemeriksaan oleh BPK kepada pihaknya masih berlangsung. Bahkan, hingga Sabtu (26/9), BPK juga masih menyambangi BI. "Sabtu kemarin saja masih ada pertemuan dengan tim pengawas. Semua diperiksa, yang utama itu tim pengawas dan pengaturan masih berlangsung," ujarnya.

Budi menambahkan, laporan interim yang rencananya akan diserahkan oleh BPK ke DPR hari ini masih bersifat sementara dan bukan final laporan. "Pemeriksaan masih berlanjut, jadi bisa berubah," ujarnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution enggan berkomentar. Dia menegaskan, pihaknya hanya akan menunggu hasil pemeriksaan BPK terlebih dahulu. "Laporan persis belum tahu, kita tunggu saja. Katanya hari-hari ini," ungkapnya di tempat yang sama.

www.kompas.com

 

PostHeaderIcon Ekonomi Indonesia 5 Tahun Mendatang Diprediksi Pulih

JAKARTA, KOMPAS.com - Prospek ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan diperkirakan akan pulih seiring dengan perbaikan ekonomi global dalam beberapa waktu terakhir.

Senior Economist Bank Dunia Subham Chaudhuri memaparkan ada dua skenario prospek ekonomi Indonesia kedepan, yakni ekonomi akan meningkat tinggi (rising) atau labil (floating). "Untuk lima tahun ke depan ada dua skenario, bisa rising atau floating," ujar Subham, di sela-sela diskusi Perkembangan Perekonomian Terkini, di Jakarta, Senin (14/9).

Dia menjelaskan skenario rising mengasumsikan pemulihan ekonomi global lebih besar dari yang diantisipasikan saat ini. Skenario ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 5 tahun mendatang akan meningkat mencapai 7-8 persen, harga ekspor dan kredit domestik diperkirakan akan berakselerasi, serta rupiah terapresiasi.

Adapun skenario floating, mengasumsikan pemulihan dunia terjadi lebih lama dibandingkan perkiraan saat ini. Dalam skenario ini, kredit domestik diasumsikan tetap lemah dan konsisten di tahun 2009, harga ekspor turun, rupiah terdepresiasi, serta pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan tetap berada di kisaran 5-6 persen.

Di samping itu, menurut Subham, prospek perekonomian Indonesia juga ditentukan oleh kebijakan pemerintah mendatang, terutama di bidang infrastruktur serta iklim investasi yang mendukung. "Kalau pemerintahannya sama seperti ini, ya akan tetap floating tidak tinggi-tinggi banget," cetusnya.

Lebih jauh World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2009 akan mencapai 4,3 persen. Tahun 2010 diperkirakan pertumbuhan meningkat menjadi 5,4 persen dan pada tahun 2011 akan mencapai 6 persen hingga 6,5 persen. Pendorong utama pertumbuhan Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan berasal dari permintaan domestik, dan pemulihan ekonomi global.

Adapun tahun depan, pertumbuhan akan kembali mengalami akselerasi didukung oleh investasi yang kuat, serta mudahnya perolehan kredit dan kepercayaan investor meningkat dibandingkan tahun ini. "Tahun depan konsumsi swasta tetap kuat dan kredit konsimsi tetap meningkat," ujarnya.

Tahun 20011, diperkirakan ekonomi dunia mulai mendekati tingkat pertumbuhan yang lebih normal sehingga mendorong ekonomi Indonesia hingga pertumbuhan tahunannya mencapai 6 persen sampai 6,5 persen.

 

PostHeaderIcon China investigasi antidumping produk impor AS

BEIJING (AP): China melakukan investigasi antidumping atas produk impor otomotif AS dan ayam menambah perselisihan perdagangan dengan Washington termasuk keputusan menaikkan tariff atas produk ban buatan China.

Kementerian perdagangan mengatakan akan menindaklanjuti adanya keluhan produk otomotif dan ayam AS dumping di pasar China atau mendapatkan keuntungan dari subsidi.

Pernyataan itu tidak memberikan penjelasan rinci mengenai keluhan itu dan bagaimana investigasi dilakukan.

Washington dan Beijing belum lama ini berselisih masalah perdagangan dan proteksionime yang bisa menganggu upaya untuk mengakhiri krisis ekonomi global.

AS dan China, peringkat pertama dan ketiga ekonomi terbesar dunia, menghadapi serangkaian permasalahan atas akses ke masing-masing pasar untuk sejumlah produk seperti bank, pipa, musik, dan film.

Presiden Barack Obama akhir pekan lalu menyetujui tarif baru bagi impor ban untuk mobil dan truk ringan China yang masuk ke AS. Keputusan ini mendapat kecaman dari pihak Beijing sebagai tindakan proteksionisme dan menciderai perdagangan global.

Kementerian perdagangan China menegaskan pihaknya tetap menentang proteksionisme. "Sejak krisis finansial, kebijakan China mendukung atas masalah ini. China bermaksud bekerja dengan seluruh negara untuk bersama-sama memulihkan ekonomi dengan cepat," papar pernyataan pemerintah.(yn)

 

PostHeaderIcon SBY Akan Hadapi 200 CEO di AS

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak hanya menyambangi pertemuan negara-negara anggota G-20 di Pittsburgh, Amerika Serikat, pada 24 September-25 September 2009, tetapi juga akan bertemu 200 pemimpin perusahaan alias CEO di Amerika Serikat.

Rencananya, pertemuan itu digelar di Boston pada 26 September seusai pertemuan G-20. "Pertemuan itu semacam forum bisnis dengan para CEO," ujar Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) MS Hidayat di Istana Negara, Senin (14/9).

Pertemuan itu nantinya juga melibatkan Chamber of Commerce atau Kadin Amerika Serikat. "Saya yang meng-organize di Boston nanti," tutur MS Hidayat.

Selain bertemu para CEO, Presiden juga akan memberikan kuliah umum di Universitas Harvard pada 29 September.

Berkaitan dengan pertemuan G-20, Hidayat menjelaskan, Kadin dari setiap negara yang hadir bakal menandatangani deklarasi mendukung pemulihan ekonomi yang mengutamakan prinsip kehati-hatian. (Hans Henricus/Kontan)